Perjuangan kita untuk membendung penularan wabak COVID-19 kini bergantung kepada pemberian vaksinasi kepada majoriti rakyat Malaysia. Ini bagi mendapatkan imuniti kelompok untuk melindungi bukan sahaja kita tetapi kepada golongan berisiko yang lain seperti kanak-kanak.
Jumlah pemberian vaksin di negara kita kini mencatatkan angkayang cukup memberangsangkan dan kini turut diiktiraf sebagai antara terpantas di dunia. Ketika artikel ini ditulis, sekurang-kurangnya 11.8 juta penduduk di Malaysia telah menerima dos pertama.
Dan kini kesan awal vaksinasi mungkin telah dapat kita saksikan berdasarkan statistik jumlah kes positif COVID-19 semalam. Menurut Ketua Pengarah Kesihatan Tan Sri Dr Noor Hisham Abdullah mendedahkan bahawa daripada 14,516 kes, sebanyak 92% tiada sejarah vaksinasi.
Angka-angka tersebut berdasarkan keadaan klinikal mereka semasa baharu didiagnosa COVID-19. Ada di antara mereka kekal di kategori yang sama sepanjang tempoh jangkitan, namun ada juga yang berubah status sama ada bertambah baik, atau merosot ke kategori lebih tinggi.
Antara yang paling signifikan ialah 97.9 peratus daripada 95 pesakit dalam kategori 5 (kritikal dan memerlukan bantuan pernafasan) tiada sejarah vaksinasi.
Ads
Sejumlah 85.7% daripada 77 kes kategori 4 (radang paru-paru dan memerlukan bantuan oksigen) juga tidak mempunyai sejarah vaksinasi.
Manakala bagi kes tiada sejarah vaksinasi yang lain pula menyaksikan kategori 3 (67% – radang paru-paru), kategori 2 (87.6% – bergejala ringan) dan kategori 1 (95.6% – tidak bergejala).
Ads
Ilustrasi: KKM
Seperti mana kita tahu, kebanyakan kes kategori 1 dan 2 yang berisiko rendah serta mempunyai kediaman yang sesuai dibenarkan melakukan isolasi di rumah. Ini dapat membantu mengurangkan kesesakan di Pusat Kuarantin dan Rawatan COVID-19 (PKRC) dan hospital-hospital terutama di Lembah Klang.
Dengan angka-angka ini, kita dapat lihat bahawa keberkesanan vaksinasi di dalam usaha membendung pesakit yang le bih kritikal jika dijangkiti wabak ini. Jadi marilah kita dapatkan vaksinasi dan sama-sama lindung diri dan lindung semua.
Gentleman semua dah baca MASKULIN?
Download dekat
je senang
Ada hal yang sebenarnya sederhana akan tetapi tidak banyak umat muslim yang mengetahui akan hal ini dan masih malu untuk menanyakan perihal berhubungan dengan mencukur bulu kemaluan. Perlu anda ketahui jika mencukur bulu kemaluan adalah salah satu sunnah dari Rasulullah SAW dan menjadi fitrah yang baik sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dari Abu Hurairah ra, “Fitrah ada 5: khitan, mencukur bulu kemaluan, memendekkan kumis, potong kuku, dan mencabut bulu kemaluan.” (HR. Bukhari 5891 dan Muslim 257).
Dari beberapa hadith yang mengatakan tentang kesunnahan mencukur bulu kemaluan, para ulama kemudian sepakat jika hukum mencukur bulu kemaluan adalah sunnah atau dengan kata lain dianjurkan. Akan tetapi, terjadi perbedaan pendapat dalam masalah mencukur atau mencabut bulu kemaluan tersebut.
Madzhab Hanafiyah mengatakan jika sunnahnya merupakan mencabut, akan tetapi madzhab Maliki mengungkapkan sebaliknya yakni sunnahnya bukan mencabut namun mencukur. Selain itu, madzhab syafi’i juga mempunyai pandangan yang berbeda yakni membedakan muslim yang masih single dengan perempuan yang sudah lanjut usia. Untuk kaum wanita muslim yang masih muda maka disunnahkan untuk mencabut bulu kemaluan. Sedangkan untuk wanita yang sudah lanjut usia, disunnahkan untuk mencukurnya saja.
Sedangkan madzhab Hambali atau Imam Ahmad berpendapat jika sunnahnya adalah mencukur dan pendapat terakhir ini disetujui Lembaga Kajian Fatwa Arab. lembaga tersebut mengungkapkan jika manfaat dari sunnah mencukur bulu kemaluan adalah untuk menjaga kebersihan di sekitar alat vital dan juga meningkatkan pembuluh darah saat berjima dan terhindar dari penyakit karena bakteri yang tumbuh serta berkembang biak diantara bulu kemaluan tersebut.
Hadith Mencukur Bulu Kemaluan Dalam Islam
Dari A’isyah radliallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada sepuluh hal dari fitrah (manusia); Memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukup bulu pubis dan istinjak (cebok) dengan air. ” (H.r. Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa’i, dan Ibn Majah).
Dalam hadits diatas memperlihatkan jika mencukur bulu atau pun rambut tertentu hukumnya adalah disyariatkan dan tidak dilarang.
Sementara dalam riwayat lainnya yakni dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada lima hal termasuk fitrah; Istihdad, khitan, memangkas kumis, mencabut bulu kemaluan, dan memotong kuku.” (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya)
Kemudian, Imam as-Syaukani memberi penjelasan, Istihdad adalah mencukup bulu kemaluan. Digunakan istilah istihdad, yang artinya mengunakan pisau, karena dalam mencukurnya digunakan pisau. Sehingga bisa dilakukan dalam bentuk dicukur (habis), dipotong (pendek)… (Nailul Authar, 1: 141)
but bulu kemaluan.” (HR. Bukhari 5891 dan Muslim 257).
Dari beberapa hadith yang mengatakan tentang kesunnahan mencukur bulu kemaluan, para ulama kemudian sepakat jika hukum mencukur bulu kemaluan adalah sunnah atau dengan kata lain digalakkan. Akan tetapi, terjadi perbedaan pendapat dalam masalah mencukur atau mencabut bulu kemaluan tersebut.
Madzhab Hanafiyah mengatakan jika sunnahnya merupakan mencabut, akan tetapi madzhab Maliki mengungkapkan sebaliknya yakni sunnahnya bukan mencabut namun mencukur. Selain itu, madzhab syafi’i juga mempunyai pandangan yang berbeda yakni membedakan muslim yang masih single dengan perempuan yang sudah lanjut usia. Untuk kaum wanita muslim yang masih muda maka disunnahkan untuk mencabut bulu kemaluan. Sedangkan untuk wanita yang sudah lanjut usia, disunnahkan untuk mencukurnya saja.
Sedangkan madzhab Hambali atau Imam Ahmad berpendapat jika sunnahnya adalah mencukur dan pendapat terakhir ini disetujui Lembaga Kajian Fatwa Arab. lembaga tersebut mengungkapkan jika manfaat dari sunnah mencukur bulu kemaluan adalah untuk menjaga kebersihan di sekitar alat vital dan juga meningkatkan pembuluh darah saat berjima dan terhindar dari penyakit karena bakteri yang tumbuh serta berkembang biak diantara bulu kemaluan tersebut.
Bolehkah Suami Mencukur Bulu Kemaluan Isteri Atau Sebaliknya ?
Ada sebagian umat muslim pasangan suami istri yang mempertanyakan apakah boleh istihad dilakukan oleh suami karena alasan suami tidak susah saat mencukur bulu kemaluan sendiri dan supaya lebih mesra dan alasan lainnya?. Saat suami membantu istri melakukan istihdad, maka pastinya juga akan melihat aurat yang dimiliki istri atau sebaliknya dan terdapat dua pendapat ulama mengenai hal tersebut.
Ulama yang memakruhkan memiliki dalil dengan hadits riayat Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berkata, “Aku tidak pernah memandang kemaluan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali”. (HR. Ibnu Majah)
Mubah
Pendapat jumhur ulama yang menilai hadits Aisyah tersebut dhaif seperti yang disebut Al Hafizh Ibnu Rajab. Selain itu dalil lain adalah riwayat Aisyah dalam Bukhari dan Muslim yang berkata, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dari satu bejana antara aku dan beliau. Kemudian beliau bergegas-gegas denganku mengambil air, hingga aku mengatakan: tinggalkan air untukku, tinggalkan air untukku”. Ia berkata; “Mereka berdua saat itu dalam kondisi junub”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam Fathul Bari dijelaskan jika ulama seperti Ad Daudi berdalil dengan hadits berhubungan dengan suami yang memandang aurat istri. Sedangkan hadits lain yang dijadikan pegangan untuk memperbolehkan suami melihat aurat istrinya adalah dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jagalah auratmu kecuali dari istrimu”. (HR. Tirmidzi dan Abu Daud, hasan)
Ibnu Hajar Al Asqalani juga memberi penjelasan jika hadith ini memperlihatkan boleh suami melihat aurat istri. Ibnu Hazm Azh Zhahiri juga menegaskan, “Boleh bagi suami untuk memandang ‘milik’ istri sebagaimana istri juga boleh memandang ‘milik’ suami. Hal itu tidak dianggap makruh sama sekali.”
Ada beberapa tip yang harus diperhatikan saat mencukur bulu kemaluan dalam ajaran agama Islam, seperti:
Siapkan alat cukur yang dikhususkan untuk mencukur bulu area kemaluan, gunting untuk merapikan, pisau cukur atau silet untuk mencukur habis.
Saat mencukur bulu kemaluan, sebaiknya jangan dilakukan dari bulu kemaluan yang lebat sampai benar-benar habis sama sekali. Awali dengan memotong sedikit lebih pendek di setiap minggunya dan dilanjutkan pada minggu berikutnya begitu pun selanjutnya. Awali dengan bidang dari sudut bulu kemaluan yang lebih kecil dan lebih kecil lagi dengan cara mencukurnya.
Tambahkan juga dengan lapisan sabun atau jeli yang baru setiap kali anda mencukur bulu kemaluan. Anda juga mungkin akan membutuhkan sedikit minyak diantara kulit yang halus terutama untuk anda yang memiliki kulit sensitif.
Merendam dengan air hangat atau memakai air hangat sebelum mulai mencukur bulu kemaluan berfungsi untuk melembutkan bulu di sekitar kemaluan tersebut sehingga akan lebih mudah di gunting atau di cukur sekaligus tidak memakan banyak waktu.
Oleh kerana kulit di sekitar kemaluan sangat tipis dan sensitif, maka tidak disarankan untuk mencabut bulu kemaluan sebab akan menimbulkan efek sampingan dan terasa sakit.
Cukurlah bulu kemaluan dengan arah pertumbuhan bulu dan amati pola ini sesudah anda memotong pendek bulu kemaluan tersebut. Untuk orang yang sudah berpengalaman bisa mencukurnya dengan arah berlawanan dari arah pertumbuhan rambut sesudah dilakukan pada arah serat kemudian memakai gerakan lembut sehingga hasil cukuran bisa bagus. Akan tetapi cara ini jangan dilakukan untuk anda yang baru bermula.
Pakai juga kaca berukuran besar yakni seukuran tubuh anda dan juga pencahayaan yang baik supaya hasil pencukuran bisa baik dan rapi.
Sesudah anda selesai mencukur, maka aplikasikan juga pelembap untuk menyegarkan dan menyejukkan area kulit kemaluan anda. Berhati-hati dengan wangian atau bahan tambahan dari pelembap yang akan menimbulkan iritasi kulit dan lebih baik gunakan babi oil untuk mengurangi iritasi sesudah selesai mencukur
SUMBER : DALAM ISLAM.COM
Gentleman semua dah baca MASKULIN?
Download dekat
je senang
Kadang-kadang mungkin kebanyakan suami agak kurang peka dengan perasaan isteri selepas kehadiran orang baru dalam kehidupan rumah tangga mereka. Tapi tahukan para suami bahawa di sebalik senyuman dan tawa bahagia isteri selepas melahirkan anak, mereka memendam perasaan. Suami malah tidak mengetahui ini.
Isteri mengalami perubahan keadaan psikologi. Untuk sekadar diketahui suami, inilah perubahan perasaan isteri selepas mempunyai anak.
Bila ibu baru melahirkan anak akan sering marah-marah, itu kerana mereka penat. Mereka ingin berehat, atau sekadar santai menonton televisyen.
Mengurus bayi amat memenatkan. Mereka tidak ingin mendengar soalan suami, “Adakah kamu perlu bantuan?” Percayalah mereka sangat memerlukan!.
Isteri menyukai status baru suaminya sebagai seorang ayah. Mereka makin cinta terhadap suami memegang anak, mengajak bermain, berbicara, dan mendoakan.
Mereka kecewa melihat keadaan tubuh yang membesar dan tiada sehelai pakaian pun yang boleh dipakai. Biasanya mereka boleh bergaya feminin, tapi satu pun kini tak muat.
Semua wanita selalu inginkan perlindungan. Mempunyai bayi membuat hidup penuh drama. Mereka ingin ada yang melindungi.
Sumber: Familyshare
Gentleman semua dah baca MASKULIN?
Download dekat
je senang
Apakah hukum orang solat dengan memakai baju singlet?
Jawapan:
Singlet adalah suatu pakaian dalaman yang tidak berlengan dan ia biasanya dipakai oleh orang lelaki. Dalam erti kata lain, seseorang yang menunaikan solat dengan memakai singlet bererti dia solat dalam keadaan memakai baju yang tidak berlengan dan mendedahkan bahagian bahunya. Berkenaan hal ini, tidak dinafikan bahawa di sana terdapatnya riwayat yang berkaitan. Ini berdasarkan sebuah hadis daripada Abu Hurairah R.A bahawa Rasulullah S.A.W bersabda:
Maksudnya: Janganlah salah seorang dari kamu solat dengan pakaian yang satu, yang mana tidak ada sesuatu di atas dua bahunya.
Riwayat Al-Bukhari (359)
Berdasarkan zahir hadis di atas, terdapatnya larangan ke atas perbuatan solat dalam keadaan bahagian bahu terdedah. Di dalam kaedah usul fiqh mengatakan, bahawa larangan itu membawa erti pengharaman. Justeru, sebahagian para ulama mengatakan bahawa perbuatan tersebut adalah haram.
Imam Ibn Qudamah Al-Maqdisi Rahimahullah mengatakan: Wajib ke atas seseorang yang solat untuk meletakkan sesuatu daripada pakaian di atas bahunya, sekiranya dia mampu untuk melakukannya. Inilah pendapat Ibn Al-Munzir dan dihikayatkan daripada Abu Ja’far, beliau berpendapat bahawa tidak sah solat bagi sesiapa yang tidak menutup bahunya. Manakala majoriti para fuqaha pula berpendapat: Yang demikian itu tidak wajib, dan ia bukanlah syarat sah solat. Inilah pendapat Imam Malik, dan Imam Al-Syafie, kerana kedua bahu tersebut bukanlah aurat maka ia menyamai baki anggota badan yang lain. Lihat Al-Mughni, Ibn Qudamah (1/618).
Manakala Imam Al-Nawawi Rahimahullah di dalam kitabnya Al-Minhaj Syarah Sahih Muslim (2/274) apabila mensyarahkan hadis ini beliau berkata: Kata para ulama: Hikmahnya adalah, jika dia memakai baju dan tidak ada sesuatu di atas bahunya, maka tidak selamat daripada terdedah bahagian auratnya, berbeza dengan jika diletakkan pakaian di atas bahu. Kata beliau lagi: Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Al-Syafie serta jumhur berpendapat: Larangan itu menunjukkan kepada makruh tanzih, bukannya kepada pengharaman. Jika seseorang itu solat hanya dengan memakai satu pakaian yang menutup auratnya, tetapi tidak menutup bahagian bahunya maka solatnya dikira sah berserta hukum makruh. Sama ada dia mampu meletakkan sesuatu di atas bahunya ataupun tidak. Manakala Imam Ahmad dan sebahagian para salaf berpendapat bahawa solatnya tidak sah sekiranya dia mampu meletakkan sesuatu (daripada pakaian) di atas bahunya. Manakala dalam riwayat lain yang juga daripada Imam Ahmad bin Hanbal beliau berpendapat bahawa solatnya adalah sah, akan tetapi berdosa jika dia meninggalkan meletak sesuatu dari pakaian di atas bahunya.
Kesimpulan
Setelah meneliti dan menilai isu ini dengan merujuk kepada nas-nas berkaitan berserta pandangan para ulama, kami menyatakan bahawa solat dengan memakai singlet, atau tidak memakai baju yang mendedahkan kedua-dua bahu orang lelaki, hukumnya adalah MAKRUH dan solat tersebut sah. Hayatilah firman Allah S.W.T:
Maksudnya: Wahai anak-anak Adam, pakailah pakaian yang menutup aurat kami ketika berada di setiap masjid.
Surah Al-A’raaf (31)
Imam Al-Thabari Rahimahullah di dalam tafsirnya mengatakan bahawa perkataan خُذُوا زِينَة di dalam ayat bererti pakaian yang menutup aurat. Kami berdoa semoga Allah S.W.T memberikan kefahaman yang tepat kepada kita dalam beragama. Ameen.
SUMBER: MUFTI WP
Gentleman semua dah baca MASKULIN?
Download dekat
je senang